Calm.
Calm like a bomb. Itu kata Zack de La Rossa…eh salah deh..Zack de La Rocha…(mungkin de La Rossa di kemang punya dia? Hehehe).
Kata salah seorang teman saya di beberapa malam minggu yang lalu, saya sekarang calm, atau bahasa indonya “kalem”.
Maksudnya?
Maksudnya gak seperti biasanya yang bawel, dan cenderung suka nyeletuk goda2xain dan nyela2xin yang lain.
Ternyata tanpa saya sadari saya telah berubah.
Sebenarnya itu saya sadari juga sih. Saya sudah mulai mengurangi obrolan yang ceplas-ceplos-to the point-satir-etc itu.
Kenapa?
Karena gak semua orang bisa menerima kata-kata yang keluar dari mulut saya, seperti mungkin saya bisa menerima kata-kata apapun yang keluar dari mulut mereka, dan kalau saya rasa tidak benar, masih bisa saya debat.
Satu masalah lagi, kadang-kadang, diskusi yang disertai perdebatan ternyata masih kurang ‘digemari’, sehingga saya harus mengubah ‘treatment’ saya terhadap beberapa pihak.
Sehingga itu lalu mengubah saya dari yang ‘mendengar lalu berbicara’ menjadi lebih banyak ‘mendengar lalu tersenyum’.
Tapi kadang-kadang saya masih suka berdebat jikalau saya rasa perlu.
Kalau merasa benar, setidaknya kan kita berhak untuk meminta penjelasan yang masuk akal. Sayangnya, terakhir saya sedang berdebat dengan seseorang yang saya rasa sudah mengambil ‘hak’ saya, teman-teman saya malah pergi meninggalkan saya. Padahal itu kan hak mereka juga yang sedang diperjuangkan. Entah, saya gak tau juga apa yang sedang ada di pikiran mereka saat itu. Yang pasti setelah itu saya jadi malas untuk mempertanyakan hak saya disitu. Bahkan sudah malas untuk bermain-main disitu. Yang pasti, saya tak mau lagi berurusan lagi dengan orang itu.
Kalem.
Mungkin sebagian orang sekarang bilang saya begitu.
Yah namanya juga introvert! (yeeeaah right!!! Hahahaha)

Leave a comment