| Category: | Music |
| Genre: | Other |
| Artist: | Zeke and The Popo |
Dari kacamata saya, settingan panggung di tata apik dengan tata lampu minim, menggunakan benda2 yang klasik di era 40-an, seperti lampu meja dengan tutup bunga, sampai ke ‘wooden television’ era bahela. Visual yang di tampilkan juga sedikit banyak mendukung keseluruhan ‘wajah’ panggung menjadi glommy.
Aksi teatrikal manusia tank face yang diperankan dengan brilliant oleh sang maestro Agus Jolly menambah nilai tersendiri bagi saya. Walaupun wajahnya tidak tampak karena tertutup oleh topeng berbentuk tank, tapi gerakan tubuh manusia tank face seakan mampu mengejawantahkan lagu2 yang di bawakan oleh Khaseli, Iman, Leo dan Yudi selama kurang lebih 1 ½ jam itu.
Sebenarnya pertunjukan malam itu akan lebih sempurna lagi jika kematangan konsep di barengi dengan kesiapan di hari H-nya secara teknis. Beberapa hal yang saya catat malam itu di antaranya adalah jadwal pertunjukan yang mundur dari waktu yang telah di tentukan, tidak di cek-nya tanda masuk (pin atau cd zatpp) di pintu masuk, sound problems sepanjang pertunjukan yang cukup mengganggu yang menyebabkan Sempat terlihatnya perubahan raut wajah zeke dan leo ketika mic yang mereka pergunakan mati.
Padahal bunyi2 perkusi dan jembe mini oleh Leo bisa menggambarkan lebih rinci kekayaan bunyi2an yang mereka ciptakan pada sebuah lagu.
Selain dari kekurangan2 teknis di atas, yang masih termaafkan dan saya yakin akan bisa teratasi di kedepan hari, maka malam itu bisa di bilang sebuah konser semi- mini yang indah.
Kalau boleh jujur, sebenarnya saya tidak terlalu hafal lagu2 mereka. Hanya satu dua lagu saja yang cukup teringat di memory, seperti menu, Prof. Komodo, dan Mighty Love.
Saya sempat menanyakan kepada beberapa teman perihal jenis atau genre musik ZATPP, tapi merekapun sesama musisi agak bingung menjawabnya…hehehehe, Jadi interpretasi saya sajalah sendiri kalau musik mereka menyebabkan celongan di hati dan mengiris nadi…:p
Yang perlu di garis bawahi selain itu adalah kecerdasan dalam menciptakan perpaduan nada dari berbagai elemen bunyi yang berasal dari beragam alat musik. Dan jika menilik dari skill para personilnya, jelas bukan skill karbitan. ‘cos they really can play those instruments.
Menguatkan pesan bahwa masih ada musik berkualitas di negeri ini, yang tidak hanya menjual wajah2 tampan, lirik2 cinta standard atau juga besar karena empati terhadap apa yang kehidupan pribadi personil band-nya.
For their effort and their performance that night, i give them 4 stars..*wink2
(there u go uga!, my kacrut review ;p)

Leave a comment