Love Your Work and Work Your Love!

pugarrestujulian.com

Quality Time bersama…

Suatu hari di minggu terakhir bulan Desember 2013, gue makan siang bersama salah satu teman baik gue. Quality time ceritanya #sedap. teman baik gue ini juga mantan vokalis gue di salah satu band yang pernah gue buat (bukan…bukan yang mantan GadSam itu).

Setelah bingung menentukan pilihan makan siang, akhirnya kami memutuskan untuk makan di Pizza HUT, di mana seperti biasa gue memesan fettucine dan dia memesan salad dan sup. Sambil makan kami lalu mulai berbicara ngalor-ngidul dan banyak bertukar pikiran. Ada beberapa point yang jadi highlight pembicaraan kita waktu itu:

  1. Film

Ngomongin Film Indonesia pada umumnya sih sekarang. Pendapatnya setelah Nonton Soekarno. Bagus katanya, walaupun banyak “cacat” di sana-sini, tapi ini bisa jadi trend yang bagus buat industri perfilman Indonesia. Lebih baik trend mengacu ke film-film seperti Soekarno dibandingkan ke film yang gak jelas seperti setan-setanan itu. Kalau ada “kekurangan” atau “kelebihan” di film-film semacam Soekarno itu, ya terima aja. Namanya juga jualan. Gue sependapat dengan pendapat dia.

2. Musik

Ngomongin musik gak bakalan ada habisnya dengan dia. Pertama gue ngomongin tentang proyek album kompilasi kantor gue, seru sekali menggarap album itu, di mana gue bisa berkolaborasi dengan teman-teman kantor, yang mungkin baru pertama kalinya bikin lagu bareng, rekaman bareng. Semoga albumnya cepat selesai! 🙂

Oh iya, menurut teman gue ini, gak ada itu suara jelek. Gue juga setuju. Kalau terdengar jelek, mungkin emang suaranya yang gak cocok sama musiknya. Gue sendiri suka sama Billy Corgan karena memang suara dia cocok dengan musiknya Smashing Pumpkins, coba kalo lo dengerin suaranya doang…belom tentu lo suka! hehehe

  1. Radio

Lalu kita beralih ke ngomongin radio. Semua radio itu sekarang sama kata temen gue itu. Dan sekarang semuanya seperti cuma buat nyari uang doang. Dan untuk masukin lagu-lagu dari band indie pun sudah gak ada celah lagi. Bahkan seperti radio Trax yang dulu deket banget sepertinya sama komunitas band indie. Sejam pun gak ada program buat nyetel lagu-lagu indie.

  1. Label Rekaman

Setelah itu obrolan beralih ke label rekaman. Sekarang label rekaman nasibnya gimana yah? Gue sendiri juga kurang tau sih…terakhir itu Juni tahun 2012 pas gue cabut dari Sony Music, sekitar 7 atau 11 orang di lay-off. Dan beberapa bulan kemaren seorang teman dari Warner Music bilang dia di PHK beserta beberapa teman yang bekerja di sana (gue lupa jumlahnya, tapi lumayan banyak juga). Mungkin label rekaman harus berevolusi balik lagi ke awalnya, jadi compact, dan lebih mirip kaya label rekaman indie yah, sedikit orang saja yang mengelolanya. Rilisan fisik sudah semakin sedikit yang beli, Aquarius Mahakam pun tutup.

  1. Musisi dan Manajemen

Terus kemudian terlontar pertanyaan, “Apa masih ada yang mau jadi musisi?”.

Entahlah. Yang pasti gue salut banget sama musisi yang memang menggantungkan hidupnya dari musik, gak seperti gue yang cari uang buat bermusik dan bukan bermusik buat cari uang. Dari situ lari lagi ke point penting lagi: supaya bisa eksis dalam bermusik, dibutuhkan manajemen yang bagus. Definisi yang bagus itu gimana gue juga gak tau, yang pasti tugas musisi itu seharusnya bikin musik aja gak usah ngurusin yang lain. Jadi selain itu tugasnya orang lain.

Kalau gak inget harus balik ke kantor, pasti dah makin meluas itu obrolan beserta wacana-wacana yang sebenernya seru juga kalau diimplementasikan ke sebuat medium (sedap banget yah bahasa gue? :P)

Makan siang lalu kita akhiri dengan gue pergi sebentar melihat die cast dan dia ke gunung agung melihat buku.

 

Sampai jumpa di quality time berikutnya! 🙂

 

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.