Love Your Work and Work Your Love!

pugarrestujulian.com

tulisan saya.

Di Jakarta, semakin hari semakin banyak band indie yang terbentuk , berkembang dan menjadi established. Ada yang menjadi besar, ada yang stagnan, ada juga yang lalu menghilang. Banyak alasan dan faktor untuk menjawab kenapa semua itu bisa terjadi. Masalah passion, time management, punya kerjaan tetap yang akhirnya malah membikin gak bisa bermusik(padahal ide awal mencari kerjaan itu untuk membiayai segala macam kepentingan bandnya), dan berbagai macam hal lainnya. Sebagian dari mereka, masih sempat untuk mendokumentasikan karyanya disela-sela kesibukan lain mereka yang beranekaragam itu. Bahkan mereka berani terus maju walaupun mereka harus melakukannya sendiri yang biasa disebut dengan DIY atau Do It Yourself(tapi saya lebih senang menyebutnya DIO atau Do It Ourself, karena mereka melakukannya juga tidak sendirian tapi bersama-sama hehehe). Strategi mereka pun bermacam-macam dalam rangka menyebarluaskan karyanya. Seperti Clover contohnya. Band yang semuanya beranggotakan wanita itu telah mengeluarkan EP “Prelude To Departure”di bawah label rekaman Nice Fellow Records. Nice Fellow Records adalah label mereka sendiri. Mereka memproduksi sendiri lagu-lagu mereka dan mendistribusikan dengan cara direct marketing. Selain direct marketing, mereka juga memakai cara titip edar dengan beberapa toko kaset/CD yang ada di Jakarta dan Bandung. Sementara  strategi yang diterapkan oleh Sweaters lain lagi. Mereka lebih banyak ikut dalam berbagai kompilasi, bahkan akhirnya lagu mereka bisa sampai ke negeri Jepang lewat album kompilasi “Pop Shower” by QUINCE records (Japan) dan kompilasi “Guitar Sketch by QUINCE records (Japan).

Uang bisa dibilang masih menjadi musuh utama dari band indie. Tapi bukan berarti karena tak punya uang lalu membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa. justru itu membuat mereka lebih kreatif. thedyingsirens merekam semua lagu-lagunya di kamar dan hanya memakai PC saja. Dan sebagian besar instrument yang dipakai adalah instrument pinjaman dari teman-teman. Desain cover pun meminta bantuan teman. Intinya semuanya itu bisa dilakukan dengan budget seminimal mungkin. Dan untuk penggandaan dan distribusi, thedyingsirens meminta bantuan dari Paviliun records. Sebelumnya thedyingsirens juga sempat ikutan di album kompilasi Paviliun Doremi keluaran Paviliun records. Untuk strategi marketing, thedyingsirens memilih media internet karena memang media ini tergolong paling murah dibandingkan dengan media yang lain, dan sesuai dengan pasar indie yang memang segmented.

Keberadaan label-label rekaman indie pun turut membantu berhasilnya perjuangan band-band indie supaya dapat dikenal masyarakat lebih banyak dan dapat dinikmati karyanya. Di Jakarta sendiri sudah semakin banyak label-label rekaman indie yang hadir seperti, Black Morse records, Aksara records, Paviliun records, Sinjitos records, Marmalade records, Kenanga records, Parc Suddenly records, sirene sekarat records, DE records, demajors, lovely records, dan lain-lain.  Dengan hadirnya berbagai macam label rekaman indie ini membuat banyak band indie yang bersemangat untuk kembali berkarya. Hadirnya label-label rekaman indie ini sebenarnya sama dengan alasan hadirnya band-band indie, dikarenakan timbulnya kebosanan dengan yang sudah ada dan karena yang ada cuma “itu-itu” saja. Label rekaman indie diatas ada yang mengurusi mulai dari rekaman sampai distribusi dan promosi, ada juga yang cuma membantu di penggandaan dan distribusi saja(contohnya seperti paviliun, demajors, lovely). Dalam hal ini si artis memproduksi sendiri albumnya dari mulai rekaman, mixing, mastering. Baru kemudian mereka bekerja sama dengan label-label tersebut dalam hal penggandaan dan distribusi.

Sementara label rekaman indie yang berperan serta dari mulai awal proses rekaman sampai akhir itu seperti Black Morse records, sebuah label rekaman indie baru yang merilis album Zeke and the Popo “Space in the Headlines” dan juga OST “Kala”.  Contoh lainnya adalah Aksara records, label indie yang menaungi band-band indie yang sudah tak asing lagi nama-namanya. Sebut saja White Shoes & the Couples Company, the Brandals, SORE, the Adams, Stereomantic, Ape on the Roof, dan Goodnight Electric.

Biasanya, label rekaman indie akan mengeluarkan sebuah album kompilasi. Disamping untuk jualan, mereka juga bisa mengetahui band mana yang kira-kira bisa menjadi ‘the next big thing’, lalu mereka akan sign band itu sebagai artis mereka.

Tapi, walaupun band-band tersebut sudah punya label ataupun belum, mereka tetap akan maju dengan caranya masing-masing. Mempergunakan fasilitas internet seperti myspace termasuk pilihan yang digemari oleh mereka. Everybody Loves Irene termasuk salah satu band indie yang berhasil ‘berjuang’ melalui myspace. Mereka juga  menjual lagu-lagu mereka via internet.  Lewat internet juga band-band indie ini bisa berkorespondensi dengan band-band indie luar negeri, mempunyai penggemar dari luar negeri, bahkan mereka bisa juga main di luar negeri. Sudah lumayan banyak band-band indie yang manggung di negeri tetangga, seperti the Brandals, White Shoes & the Couples Company, Everybody Loves Irene, dan Ballads of the Cliché. Selain itu sudah banyak event2x yang mendukung scene indie ini, seperti acara program di radio dan televisi, juga festival-festival indie sehingga nama-nama band indie tersebut makin terangkat. Dan kedepan, mereka pasti akan menemukan cara-cara baru lain dalam pergerakan perjuangan mereka supaya mereka tetap bisa eksis di dunia musik sehingga bisa dikenal lebih luas lagi.

*tulisan ini bisa juga dilihat lengkap dengan foto2x bandnya di majalah FABRIC dengan cover mariana renata dengan nama alias saya yaitu N.S. hehehe

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.